Home

MELAWAN LUPA: PEMILIHAN PPPSRS PENUH DENGAN ‘TRIK’ (SMESCO, 16 MEI 2012)

Leave a comment

Dalam artikel ini kembali diposting ulang peristiwa pemilihan Pengurus P3SRS yang penuh dengan rekayasa negatif hampir 3 (tiga) tahun yang lalu, yaitu pada tanggal 16 Mei 2012 di gedung Smesco. Rapat Umum warga Pemilik dan Penghuni yang di-rekayasa negatif ini tidak boleh terulang lagi di The Lavande Residences. Mari kita pastikan Rapat Umum yang akan dilaksanakan diawal tahun 2015 nanti dikawal ketat pelaksanaannya oleh seluruh warga murni The Lavande Residences.

*********************************

Telah terjadi di The Lavande Residences (Smesco, 16 Mei 2012)

Rapat Umum yang diadakan di Gedung Smesco Indonesia lantai 4 Ruang Serbaguna Nareswara Jl. Gatot Subroto Kav. 94 Jakarta Selatan seperti undangan dalam link ini (klik disini) undangan rapat umum 16 Mei 2012 pukul 16:00 – 20:00 dimaksudkan untuk membentuk suatu perhimpunan yang akan menentukan anggaran dasar belanja Apartement The Lavande Residences. Namun Rapat tersebut sudah di kontrol, disetir, bahkan dikuasai oleh suatu kelompok orang dari Developer.

Kejanggalan yang terjadi adalah:

1. Peserta rapat banyak dihadiri oleh orang yang hanya merupakan suruhan atau bayaran untuk mengambil suara dalam Pemilihan PPRSRS. Orang- orang tersebut memakai name tag yang mewakili unit-unit apartemen dengan surat kuasa (secara refleks penjaga didepan meminta surat kuasa, padahal kami adalah penghuni/pemilik langsung. Berarti banyak dari mereka masuk dengan surat kuasa yang entah bagaimana cara mendapatkannya). Jumlah mereka mempunyai persentase yang lebih besar dari pada orang yang merupakan pemilik/penghuni yang memiliki unit apartemen langsung, lebih dari setengah yang hadir saat itu. Hal ini kami rasakan waktu memasuki ruangan rapat. Kami datang 1 jam sebelum waktu rapat dimulai (walau kenyataannya rapat diundur hingga lebih dari 1 jam), di empat baris di depan telah diisi oleh orang-orang yang terlihat telah akrab diantara mereka, tetapi beberapa penghuni generasi pertama tinggal di The Lavande Residences mengatakan tidak pernah bertemu muka dengan mereka semua. Bahkan ada diantara mereka yang berteriak sinis terhadap penghuni yang cukup terkenal di lingkungan The Lavande Residences (beliau sebagai ketua serikat pekerja perbankan di Indonesia). Cukup janggal bagi kami apabila mereka berteriak tidak sopan terhadap penghuni senior yang telah kami kenal sangat baik. Menurut logika kami tidak mungkin penghuni asli yang tinggal di Lavande akan melakukan ini. Kalaupun memberikan kuasa tentunya tidak akan ke orang-orang seperti itu.

Telah jelas peserta rapat yang tidak kami kenali tersebut tidak akan mewakili kepentingan penghuni. Berikut adalah foto suasana pertama kali kami memasuki ruangan rapat yang disambut dengan musik yang sangat keras sehingga kami kesulitan apabila ingin berbicara dengan teman-teman kami. Akhirnya lokasi tempat duduk terbagi dua antara penghuni/pemilik asli The Lavande Residences dan penghuni “instan” yang merupakan wakil dari developer. Dan tentunya penghuni “instan” ini jauh lebih banyak daripada penghuni/pemilik asli unit The Lavande Residences.

2. Sebelum rapat ini diadakan, Pengelola Sementara Apartemen tersebut telah membagikan surat kuasa pemilihan PPRSRS. Surat kuasa ini dapat disalahgunakan apabila tanpa nama orang yang dikuasakan dan para pemilik ataupun penghuni dipaksa untuk menandatangani surat tersebut. Hal ini telah terjadi terhadap tetangga kami sesama penghuni The Lavande Residences.

3. Terdapat kejadian kehadiran penghuni / pemilik yang kami kenal baik mendapatkan masalah sewaktu akan memasuki ruangan rapat umum. Dengan alur yang dibuat rumit dan suasana mencekam (penuh dengan security yang seakan-akan peserta rapat semuanya akan melakukan kejahatan). Penghuni tersebut dilarang masuk dengan cara meng-intimidasi dengan meminta mereka untuk memasuki ruangan khusus yang telah mereka sediakan. Tentu saja kami tidak tinggal diam. Dengan permasalahan yang tidak pokok dan bagi kami pemilihan ketua PPPSRS ini setara dengan pemilihan ketua RT/RW ini, sampai-sampai penghuni yang sesungguhnya tidak diijinkan masuk adalah sangat keterlaluan.  Memang pada akhirnya kami dapat memasuki ruangan tetapi dengan cara kekerasan. Ini yang sangat kami sayangkan. Sepertinya terdapat perlakuan khusus bagi penghuni yang cukup vokal membela hak-haknya. Sebenarnya para penghuni yang datang ini adalah untuk membela kepentingan mereka sendiri atas hak-hak yang mereka miliki sendiri. Mengapa harus dipersulit?

Berikut adalah alur registrasi yang dibuat sedemikian rumitnya. Bagi kami rapat umum ini setara dengan rapat pemilihan RT/RW yang seharusnya tidak perlu dibuat serumit dan semencekam seperti saat itu.


4. Calon-calon ketua PPPSRS tidak diketahui sampai pada saat detik – detik pemilihan tersebut diadakan, bahkan waktu yang diberikan pada pemilik/penghuni untuk mengajukan calon-calonnya hanya ada beberapa menit saja. Sedangkan dari pihak developer sudah menyiapkan calon-calon dari mereka sendiri jauh hari sebelumnya tanpa sepengetahuan kita.

Gambar berikut adalah pembukaan rapat umum yang banyak dipertanyakan dan ditentang oleh para penghuni asli The Lavande Residence.  Tetapi semua proses ini seperti didukung bulat-bulat oleh penghuni “instan”. Karena skenarionya memang sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.

5. Pada saat penentuan calon ketua, bendahara dan sekretaris PPPSRS, para pemilik / penghuni hanya mempunyai waktu yang sangat singkat untuk memilih calon-calon yang ada. Terbagi menjadi 3 paket kandidat. Sedangkan profile, misi dan visi kerja para calon hanya dari penghuni asli yang cukup jelas. Kandidat dari developer bahkan tidak menyampaikan visi dan misinya. Bisa dibayangkan apabila visi dan misi yang diinginkan oleh penghuni dapat diakomodir oleh pihak developer tentunya tidak perlu terjadi  pemilihan PPPSRS yang penuh dengan trik ini.

6. Hasil dari pemilihan tersebut memang dimenangkan oleh calon dari developer dengan perolehan yang cukup jauh lebih dari 76 % (developer memiliki software yang memang telah dirancang untuk kegiatan perhitungan suara seperti ini). Logikanya apabila peserta rapat adalah benar-benar penghuni tentunya akan memilih kandidat yang lebih banyak dikenal dilingkungannya. Apalagi banyak dari peserta memegang surat kuasa yang tentunya tidak setiap hari berada di lingkungan apartemen. Tetapi calon dari developer yang untuk pertama kalinya kami bertemu dapat memenangkan suara dengan perbandingan yang sangat signifikan.

7. Semuanya berlangsung begitu cepat seperti sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Pimpinan Rapat (ketua PPPSRS baru yang dipilih oleh developer) hanya membacakan hasil-hasil rapat yang sebenarnya sudah mereka persiapkan jauh hari sebelumnya. Setiap saran atau excuse yang muncul pada saat rapat diabaikan, semua alasannya waktu yang sedikit, notaris mengatakan sah, pimpinan rapat mengatakan sah. Pemilik / penghuni tidak dianggap dalam rapat tersebut. Jadi buat apa pemilik / penghuni menghadiri rapat tersebut hanya untuk mendengarkan saja, tetapi tidak boleh bersuara. Padahal namanya rapat seharusnya mendengarkan, memikirkan pendapat dari peserta rapat; bukan pesertanya yang disuruh mendengarkan saja!

8. Tidak ada wartawan yang diundang meliput acara tersebut, bahkan peserta tidak diperbolehkan membawa perekam, kamera dan sebagainya.

Suatu panggung sandiwara yang sangat kasar, “Aneh tapi Nyata” oleh segelintir orang yang mempunyai uang untuk membeli kuasa telah terjadi lagi di dunia rumah susun Indonesia.

Kami dari para pemilik / penghuni sudah memiliki komunitas yang sudah menyadari akan hal ini dan memiliki cara tersendiri untuk menghadapi PPPSRS yang tidak berpihak kepada penghuni.

Sumber: http://thelavanderesidences.com/2012/05/18/pemilihan-pppsrs-penuh-dengan-trik/

Advertisements

Intimidasi Pemutusan Listrik oleh Ketua P3SRS Bentukan Developer dan Pengelola (PT PBI) pada hari Kamis, 3 Juli 2014 kepada Penghuni The Lavande Residences

Leave a comment

Telah terjadi intimidasi pemutusan listrik oleh Ketua P3SRS Bentukan Developer dan Pengelola (PT PBI) pada hari Kamis, 3 Juli 2014, dengan kronologi sebagai berikut:

A. Tidak adanya pelaksanaan KEWAJIBAN Transparansi Keuangan dan Kepengelolaan oleh P3SRS bentukan Developer dan Pengelola di apartemen The Lavande Residences (mulai tanggal 16 Mei 2012 hingga saat ini)

B. Konsekuensinya Penghuni melakukan protes dengan cara menangguhkan pembayaran Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) dan Utilities (mulai di bulan Agustus 2013)

C. Terjadilah intimidasi pemutusan listrik dan akses terhadap unit-unit Penghuni di The Lavande Residences (mulai awal tahun 2014 hingga saat ini)

D. Konsekuensi yang terjadi adalah para Penghuni The Lavande Residences melakukan perlawanan kepada P3SRS Bentukan Developer dan Pengelola/Konsultan Pengelola (PT PBI) hingga sekarang.

Sehingga permasalahannya tidak sesederhana karena warga tidak melakukan pembayaran, maka listrik, air dan access card dimatikan. Tetapi harus dilihat urutan A, B, C dan D seperti diatas.

Bukti telah terjadinya intimidasi pemutusan listrik ini dapat dilihat dari rekaman dibawah ini yang direkam pada hari Minggu, 6 Juli 2014:

 

Salah satu contoh tidak adanya Transparansi Keuangan di Lavande adalah rekening penyimpanan uang IPL dan utility penghuni diletakkan di rekening milik Agung Podomoro bercampur dengan uang milik apartemen-apartemen lain dan kegiatan usaha APL. Tentunya sudah jelas uang milik warga Pemilik dan Penghuni akan sulit untuk ditelusuri apabila berada di rekening yang bukan milik perhimpunan warga Lavande. Alasan dicampurnya uang milik warga Pemilik dan Penghuni The Lavande Residences dikarenakan P3SRS dan Pengelola ingin memakai fasilitas Virtual Account. Padahal cukup mudah membuat fasilitas Virtual Account sendiri khusus untuk Lavande, sehingga tidak perlu memakai fasilitas yang memang bukan seharusnya. Serta sebelumnya telah dilakukan serah terima antara Developer kepada P3SRS pada tanggal 28 Maret 2013, sehingga cukup aneh apabila pihak developer masih merasa berkepentingan terhadap keuangan warga Pemilik dan Penghuni The Lavande Residences.

APABILA KEWAJIBAN DARI P3SRS DAN PENGELOLA UNTUK MELAKSANAKAN TRANSPARANSI KEUANGAN TIDAK DIJALANKAN, MAKA WAJAR APABILA KONSEKUENSINYA PEMILIK DAN PENGHUNI MELAKUKAN PERLAWANAN.

Usaha Ke-2 dari 3 Kali Pengelola Mematikan Aliran Listrik Warga Lavande

1 Comment

Didasari dengan tidak adanya transparansi keuangan dan kepengelolaan di The Lavande Residences (“TLR”), warga Pemilik dan Penghuni TLR melakukan penahanan pembayaran IPL dan utility untuk menuntut adanya transparansi di tempat tinggalnya sendiri. Jawaban dari Ketua P3SRS bentukan developer dan pengelola adalah dengan memutuskan aliran listrik secara serentak di beberapa lantai apartemen yang dilakukan oleh pengelola (staf enginering dan security), tanpa menginformasikan kedatangannya untuk memutus listrik ke unit-unit yang akan dimatikan (16 Juni 2014 Pukul 10:00). Salah satu unit yg telah dimatikan listriknya adalah milik aktor dan pemain bola basket nasional, Samuel Rizal (Sammy) – Eiffel I’m in Love – (klik/tap disini:  http://id.wikipedia.org/wiki/Samuel_Rizal).

Tetapi terdapat satu lantai yang bisa bertahan dari pemutusan listrik oleh pengelola ini. Video dibawah ini (Youtube.com) menunjukkan usaha pemutusan ke-2 dari 3 (tiga) kali pihak pengelola berusaha mematikan Aliran Listrik Warga Lavande, tetapi pihak penghuni berhasil mempertahankannya.


 
Berikut foto-foto pada saat kejadian:
 
Usaha Ke-2 dari 3 Kali Pengelola untuk Mematikan Aliran Listrik Warga Lavande - a Usaha Ke-2 dari 3 Kali Pengelola untuk Mematikan Aliran Listrik Warga Lavande - b Usaha Ke-2 dari 3 Kali Pengelola untuk Mematikan Aliran Listrik Warga Lavande - c

Kontras.org: Eksploitasi Pedagang ITC Mangga Dua berujung Kriminalisasi

Leave a comment

Praktik-praktik penghisapan terhadap para penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua terus terjadi selama 20 tahun oleh bekas pengembang yakni PT. Duta Pertiwi Tbk yang merupakan Sinar Mas Group. Kemudian perusahaan tersebut melakukan penyalahgunaan wewenang terkait pengelolaan gedung ITC Mangga Dua dengan menempatkan para karyawannya pada struktur pengurus di Perhimpunan Penghuni Rumah Susun (PPRS) dan memberikan jasa pengelolaan gedung pada kelompok dari usahanya yakni PT. Jakarta Sinar Intertrade (PT. JSI)

Tindakan pengurus PPRS bentukan perusahaan sinar mas group telah melampaui batas yakni sejak tahun 1993 tidak pernah secara terbuka membuat laporan keuangan secara tertulis, secara sepihak menentukan kuasa atas pengelolaan gedung ke PT. JSI sehingga menaikan biaya-biaya pengelolaan gedung ITC Mangga Dua tanpa melalui rapat umum warga PPRS sebagaimana dimandatkan dalam PP No. 4 tahun 1998 tentang Rumah Susun dan pengurus PPRS membiarkan PT. JSI mengeruk keuntungan dengan menyewakan lahan-lahan fasilitas umum/fasilitas sosial.

Bahwa sejak berdiri di bulan januari 1993 PPRS versi pengembang PT. Duta Pertiwi sampai saat ini tetap eksis mengintimidasi penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua. Padahal sesuai aturan dalam Pasal 57 ayat 3 dan Pasal 67 PP Nomor 4 Tahun 1998 tentang Rumah Susun disebutkan pengembang hanya dibenarkan menjadi Pengurus dan Pengelola bersifat sementara paling lambat satu tahun sejak terbentuknya PPRS tersebut. Oleh karena itu, maka seharusnya pada tanggal bulan Januari 1994, bekas pengembang tersebut tidak lagi mengurus dan mengelola gedung ITC Mangga Dua dan harus diserahkan kepada penghuni/pemilik kios yang jelas-jelas telah memiliki Akta Jual Beli dan Sertifikat Kepemilikan.

Puncak dari kesewenang-wenangan terhadap penghuni/pemilik kios ITC Mangga Dua oleh pihak PT. JSI sebagai pengelola yakni dinaikan biaya pengelolaan gedung pada bulan April 2013. Sehingga ribuan penghuni/pemilik kios menolak ditetapkan kenaikan biaya tersebut. Akibatnya pada tanggal 18 Juli 2013 pihak pengelola memutuskan aliran listrik kehampir seluruh blok 1A ITC Mangga Dua dan kejadian tersebut terulang kembali sampai tanggal 2 September 2013. Selain itu melaporkan 3(tiga) orang pengurus PPRS baru dari pihak penghuni/pemilik kios yakni : Sdri. Haida Sutami, Sdr. Suresh Hiranand Karnani dan Sdr. Mardianta Pek ke Porles Jakarta Utara dengan ‘pasal karet’ perbuatan tidak menyenangkan (pasal 335 KUHP).

Tindakan pihak polres Jakarta Utara tidak professional dan berimbang dengan mempercepat proses penyidikan dengan menetapkan status tersangka kepada 3 (orang) tersebut, Sedangkan laporan pidana oleh penghuni/pemilik kios kepada pihak pengelola sampai saat ini tidak berjalan kasusnya.

Berdasarkan hal-hal tersebut, KontraS mendesak kepada :

  1. Menteri Perumahan Rakyat untuk meninjau ulang keberadaan PPRS di setiap Rumah Susun yang selama ini telah menjadi alat eksploitasi penghuni/pemiliknya
  2. Dinas Perumahan Provinsi DKI untuk mengambil alih adanya konflik berkepanjangan antara pengelola dan warga Rumah Susun di DKI Jakarta
  3. Kapolda Metro Jaya untuk menindak anggotanya yang telah melakukan kriminalisasi dan rekayasa kasus atas penghuni/pemilik Rumah Susun terutama di ITC Mangga Dua
  4. Institusi Negara (Komnasham dan Ombudsman RI) untuk melakukan penyelidikan atas banyaknya korban pelanggaran HAM dan mall administrasi yang menimpa penghuni/pemilik Rumah Susun.

Jakarta, 24 Januari 2014

Syamsul Munir (081380855841) : Kadiv Advokasi Hak Ekosoc, KontraS

Sumber: http://kontras.org/index.php?hal=siaran_pers&id=1840

Penyegelan Ruang Badan Pengelola oleh Pemilik dan Penghuni The Lavande Residences

Leave a comment

PEMBERITAHUAN

RUANG PENGELOLA TELAH DIBUKA KEMBALI
PADA HARI SENIN, 27 JANUARI 2014 PUKUL 08:00 PAGI

DENGAN DEMIKIAN PARA KARYAWAN DAPAT BEKERJA SEPERTI BIASA.

Segel Dibuka Kembali

***********************************************************************************************

Pada hari Sabtu, 25 Januari 2014 pukul 07:00 pagi para Pemilik dan Penghuni The Lavande Residences telah menyegel ruang Badan Pengelola (PT Prima Buana Internusa) selaku Badan Pengelola di apartemen The Lavande Residences. Penyegelan ini dipimpin oleh Bapak Dedy I. Arruanpitu (Pengawas II P3SRS, murni Pemilik dan Penghuni yang mewakili aspirasi warga The Lavande Residences). Penyegelan ini dilakukan karena Ketua, Sekretaris dan Bendahara (bentukan Developer) telah berkali-kali mengabaikan permintaan (dalam bentuk surat dan email) untuk mengadakan pertemuan dari Pengawas P3SRS untuk mempertanggungjawabkan segala permasalahan di apartemen The Lavande Residences. Tindakan Pengawas P3SRS yang mewakili aspirasi warga ini adalah bentuk dari teguran keras dari Pengawas P3SRS kepada Ketua, Sekretaris dan Bendahara (bentukan Developer) yang tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai yang telah diamanahkan, sementara mereka digaji oleh para Pemilik dan Penghuni melalui uang IPL (Iuran Pemeliharaan Lingkungan) yang dibayarkan setiap bulan.

Berikut adalah ruang pengelola yang disegel:
01 Ruang Pengelola Disegel

02 Ruang Pengelola Disegel

03 Ruang Pengelola Disegel

Berikut adalah ruang finance yang disegel:
04 Ruang Finance Disegel

Berikut adalah spanduk yang dipasang di area parkir sebagai informasi mengenai dasar penyegelan ini:
Ketua P3SRS Sejak “Terpilih” (Rabu, 16 Mei 2012) hingga saat ini, tidak pernah memberikan pertanggungjawaban kepengelolaan kepada Pemilik dan Penghuni (bertentangan dengan ketentuan AD/ART The Lavande Residences)
05 Tidak Pernah Memberikan Pertanggungjawaban

Ketua P3SRS digaji Rp. 5 juta/bulan oleh Pemilik dan Penghuni tapi tunduk dan patuh pada Developer dan Pengelola
06 Ketua P3SRS Tunduk Pada Pengelola

Bagaimanakah Performance Pengelola The Lavande Residences Saat Ini?

Leave a comment

Pada tanggal 23 Desember 2013 telah dilakukan latihan pemadaman kebakaran, tetapi hanya selalu dilakukan di lantai 27 saja dan tidak pernah dilaksanakan dilantai lainnya.

Latihan Kebakaran Hanya di Lantai 27 - 23 Desember 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

 

 
Selang hidrant hanya dilepas dari tempatnya tanpa digunakan. Bisa terlihat dari bagaimana penanganan pengelola dalam menghadapi ruang sauna yang habis terbakar. Kesiapan dan kesigapan staf pengelola diragukan dalam menghadapi bahaya kebakaran.

Selang Hanya Dilepas Tanpa Dipakai

 

Terlihat staf maintenance mendokumentasikan latihan kebakaran sambil merokok di area yang seharusnya dilarang merokok.

Staff Maintenance Merokok Sambil Latihan Kebakaran - 23 Desember 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

 

 

Lebih baik uangnya untuk memperbaiki kebocoran yang telah selama 3.5 tahun dengan 4 kali pergantian manager gedung tetapi tidak kunjung selesai, daripada untuk latihan pemadaman kebakaran yang tidak serius.

Koridor Bocor

 

Hal ini dikarenakan Ketua P3SRS dan Apartemen Manager The Lavande Residences terlalu disibukkan mengurusi apartemen lain daripada mengurusi The Lavande Residences. Memang beginilah cara kerja mereka dan modus operandi yang terjadi.

Ketua P3SRS (Setiarto Haryono) dan Apartemen Manager (EO Gobel) dalam daftar hadir pertemuan Perhimpunan Penghuni Apartemen Mediterania Boulevard Residences pada tanggal 27 September 2012.

Daftar Hadir Apartemen Mediterania Boulevard Residences 27 September 2012 - a

Daftar Hadir Apartemen Mediterania Boulevard Residences 27 September 2012 - b

Daftar Hadir Apartemen Mediterania Boulevard Residences 27 September 2012 - c

Masihkan Ketua P3SRS dan Pengelola Menutup Mata Terhadap Masalah-masalah Di The Lavande Residences?

Leave a comment

Ditengah makin gencarnya bukti-bukti dan data-data yang diungkap oleh Pemilik dan Penghuni Apartemen The Lavande Residences, masihkah Ketua P3SRS (bentukan developer ) dan Pengelola (anak perusahaan developer) menutup mata dan keras kepala terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di The Lavande Residences? Terutama didalam Surat Pemberitahuan yang dipasang di papan pengumuman yang merupakan propaganda Pengelola dan P3SRS bentukan developer seperti dibawah ini:

a Masih Saja Dipasang
 
Hasil dari pertemuan Silaturahim Warga Lavande pada tanggal 30 November 2013 lalu, telah diinformasikan melalui spanduk yang dipasang di balkon penghuni The Lavande Residences sebagai berikut:

“Ketua P3SRS digaji Rp. 5 Juta/Bulan (oleh Pemilik dan Penghuni) tapi tunduk pada Developer dan Badan Pengelola”

b Ketua P3SRS Digaji 5 Juta Tetap Tunduk Pada Pengelola dan Developer
 
Hal ini juga dibuktikan dengan keberadaan Ketua P3SRS bentukan developer bekerja untuk badan pengelola di Bulletin Inner City (milik pengelola) Volume V/No 17/April – Juni/2013 yang telah di-publish di aula Lavande (pertemuan warga 30 November 2013) seperti dibawah ini:

c Majalah Innercity - Ato di Green Bay - b

d Majalah Innercity - Ato di Green Bay - a
 
Untuk itu Pemilik dan Penghuni The Lavande Residences haruslah bertindak tegas untuk berdaulat. Semangat ini telah diinformasikan melalui spanduk sebagai berikut:

“Pengurus P3SRS harus murni pemilik, bukan bagian dari developer/pengelola. Kita harus berdaulat. Warga Lavande Bersatulah”
e Warga Lavande Bersatu
 
Pelaksanaannya cukup mudah, karena cukup dengan melaksanakan Pertemuan Warga Lavande secara Terbuka (baik Rapat Umum Tahunan/RuTa, Rapat Umum Luar Biasa warga The Lavande Residences, dll). Pertemuan ini dilaksanakan di rumah kita sendiri dan tidak perlu dilakukan diluar tempat tinggal kita. Apabila terdapat pertemuan yang mengatasnamakan warga The Lavande Residences diluar area The Lavande Residences, maka pertemuan itu tidak sah adanya. Karena tidak mewakili aspirasi segenap Pemilik dan Penghuni The Lavande Residences.
f Pertemuan Warga Lavande

Older Entries